Agus Taufiqurrohman: Kepemimpinan Kuat adalah Fondasi Perguruan Tinggi Unggul dan Berkemajuan

um-palembang.ac.id – Universitas Muhammadiyah Palembang kembali memperkuat komitmennya dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang unggul melalui kegiatan Pengajian Pimpinan yang menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., sebagai narasumber utama. Pengajian ini menjadi forum strategis untuk memperkuat nilai-nilai kepemimpinan, profesionalisme, dan semangat dakwah dalam pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), pada Jumat 24 Juli 2026.

Turut hadir dalam pengajian pimpinan tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., Ketua Badan Pembina Harian Dr. H.M. Idris, S.E., M.Si., Wakil Rektor, Dekan, dan Wakil Dekan dilingkungan fakultas.

Dalam pemaparannya, dr. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan faktor fundamental dalam menentukan kemajuan sebuah organisasi, institusi, maupun bangsa. Menurutnya, keberhasilan suatu lembaga tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia, tetapi juga oleh hadirnya kepemimpinan yang kuat, visioner, dan mampu menggerakkan seluruh potensi organisasi.

Ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin memiliki peran sebagai solidarity maker, problem solver, serta pribadi yang berani mengambil risiko dalam setiap proses pengambilan keputusan. Selain itu, pemimpin harus menjadi teladan, motivator, dan inspirator bagi seluruh anggota organisasi sehingga mampu menciptakan budaya kerja yang sehat dan produktif.

Dalam konteks Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), Agus menekankan bahwa keunggulan akademik harus berjalan seiring dengan penguatan identitas keislaman. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut meraih berbagai capaian seperti akreditasi unggul dan menghasilkan alumni berkualitas, tetapi juga memastikan seluruh proses pengelolaan berlandaskan nilai-nilai Islam dan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).

Ia menyampaikan bahwa Amal Usaha Muhammadiyah merupakan media dakwah persyarikatan yang harus menghadirkan identitas keislaman melalui pelayanan, budaya organisasi, karakter pengelola, hingga tata ruang yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Di samping itu, AUM harus terus meningkatkan kualitas pengelolaan secara profesional, jujur, penuh tanggung jawab, dan mengedepankan semangat bekerja sama dalam kebaikan serta ketakwaan.

Pengajian tersebut juga menggarisbawahi pentingnya budaya mutu. Agus mengutip hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa Allah mencintai setiap pekerjaan yang dilakukan secara profesional (itqan). Semangat inilah yang harus menjadi budaya kerja seluruh civitas akademika agar mampu menghadirkan prestasi dan keunggulan di berbagai bidang.

Selain kompetensi akademik, karakter lulusan menjadi perhatian utama. Dunia kerja, menurut materi yang disampaikan, semakin membutuhkan lulusan yang memiliki etos kerja tinggi, percaya diri, berpikir visioner, mampu bekerja dalam tim, berpikir analitis, adaptif terhadap perubahan, sanggup bekerja di bawah tekanan, memiliki kemampuan bahasa Inggris, serta mampu mengorganisasi pekerjaan dengan baik. Karena itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus membentuk karakter yang kuat.

dr. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., juga mengingatkan bahwa perubahan besar selalu diawali dari perubahan sikap. Prinsip “Attitude is Everything” menjadi pesan penting bahwa keberhasilan seseorang maupun organisasi sangat dipengaruhi oleh karakter dan cara berpikir yang positif.

Dalam kesempatan tersebut, ia kembali mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai dasar Muhammadiyah yang meliputi aqidah, akhlak, ibadah, dan muamalah sebagai fondasi dalam menjalankan amanah organisasi. Integritas, kejujuran, serta kedisiplinan harus menjadi budaya yang melekat dalam setiap aktivitas pimpinan dan pengelola amal usaha.

Menutup pengajian, dr. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., mengingatkan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang harus diberikan kepada orang yang memiliki kompetensi. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka kehancuran tinggal menunggu waktu. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa regenerasi kepemimpinan harus dilakukan secara terencana dan berbasis kapasitas.

Melalui kegiatan Pengajian Pimpinan ini, Universitas Muhammadiyah Palembang semakin meneguhkan komitmennya untuk membangun kepemimpinan yang berintegritas, profesional, unggul, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Harapannya, seluruh pimpinan mampu menjadi pelopor perubahan yang tidak hanya membawa kemajuan institusi, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi masyarakat, bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah.

Editor : Rianza Putra