Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang Lantik 15 Dokter Baru, Tekankan Integritas dan Spirit Pengabdian

um-palembang.ac.id – Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang kembali melahirkan dokter dalam prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah 15 dokter baru tahun akademik 2025/2026 yang digelar di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7, Rabu (4/3/2026). Momentum sakral ini terasa semakin istimewa karena berlangsung di bulan suci Ramadhan 1447 H, bulan yang sarat nilai spiritual dan penguatan karakter.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., Dekan Fakultas Kedokteran dr. Liza Chairani, Sp.A., M.Kes., Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dr. Yudi Fadilah, MARS., Direksi RS BARI Palembang, dan tamu undangan.

dr. Liza Chairani, Sp.A., M.Kes., dalam sambutannya menegaskan bahwa pengucapan sumpah dokter bukan sekadar seremoni akademik, melainkan tonggak penting dalam perjalanan panjang pendidikan dan pengabdian seorang dokter.

“Pada hari yang penuh makna ini, kita menyaksikan momen sakral pengucapan sumpah dokter. Ini adalah titik awal tanggung jawab profesional sekaligus moral yang akan diemban sepanjang hayat,” tegasnya.

Ia menyoroti makna Ramadhan yang selaras dengan nilai-nilai profesi kedokteran. Menurutnya, Ramadhan mengajarkan pengendalian diri, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama kualitas yang mutlak dimiliki seorang dokter dalam menjalankan tugasnya.

Dokter, lanjutnya, tidak cukup hanya unggul secara intelektual. Kompetensi klinis memang penting, namun kematangan spiritual dan emosional menjadi fondasi utama dalam membangun relasi dengan pasien serta mengambil keputusan medis yang bijak.

“Dalam setiap keputusan klinis, dalam setiap sentuhan kepada pasien, hendaknya selalu hadir niat ibadah dan semangat rahmatan lil ‘alamin. Profesi ini adalah amanah,” ujarnya di hadapan para dokter baru dan keluarga yang hadir.

dr. Liza Chairani, Sp.A., M.Kes., juga mengingatkan bahwa tantangan dunia medis ke depan tidak semakin ringan. Kompleksitas penyakit, perkembangan teknologi kesehatan, serta dinamika sosial menuntut dokter untuk terus belajar, menjaga integritas, dan tidak kehilangan empati. Profesionalisme harus berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan.

Kepada para dokter yang baru dilantik, dekan berpesan agar menjadikan profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan pengabdian. Seorang dokter, katanya, harus mampu menghadirkan harapan di tengah kecemasan pasien dan keluarganya.

“Jadilah dokter yang tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga menghadirkan harapan. Jadikan profesi ini sebagai jalan ibadah dan ladang amal jariyah,” pesannya lugas.

Pada kesempatan tersebut, dr. Liza Chairani, Sp.A., M.Kes., juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan keluarga yang selama ini menjadi penopang utama perjuangan para mahasiswa hingga resmi menyandang gelar dokter. Keberhasilan hari itu disebutnya sebagai buah dari doa, kesabaran, dan pengorbanan yang tidak terlihat di permukaan.

“Keberhasilan hari ini adalah buah dari kesabaran dan cinta yang tulus. Tanpa dukungan keluarga, perjalanan panjang ini tidak akan sampai pada tahap ini,” pungkasnya.

Editor : Rianza Putra