um-palembang.ac.id – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Lazismu Sumatera Selatan didorong tidak sekadar menjadi forum konsolidasi organisasi, tetapi harus menjadi ruang strategis untuk memperkuat inovasi sosial yang berdampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Penegasan ini disampaikan Wakil Ketua Lazismu Pusat Dr. Erni Juliana Al Hasanah Nasution, S.E., M.Ak., dalam arahannya pada kegiatan Rapat Kerja Wilayah Lembaga Amal Zakat, Infak, dan Sodaqoh Muhammadiyah (LAZISMu) Provinsi Sumatera Selatan dengan mengangkat tema “Sinergi Strategis Untuk Lazismu Berdampak dan Berkelanjutan”, pada Sabtu – Minggu, 14 – 15 Februari 2026 yang bertempat di Aula Gedung Prof. Djakfar Murod Universitas Muhammadiyah Palembang Lantai 2.
![]()
Hadir dalam kegiatan ini, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumsel Ridwan Hayatuddin, S.H., M.M., Ketua Lazismu Sumsel Heru Ginanjar Prayogo, S.E., M.E., Pimpinan Daerah Muhammadiyah se Sumsel, Lazismu Provinsi Jawa Tengah sebagai narasumber, dan Pengelola Kantor Layanan Lazismu se Sumsel.
Menurut Erni Juliana Al Hasanah Nasution, Rakerwil Lazismu Sumsel merupakan bagian dari amanah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lazismu yang sebelumnya digelar di Balikpapan. Amanah tersebut menekankan pentingnya penguatan inovasi sosial melalui pengelolaan dana umat yang terintegrasi, profesional, dan responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat.
![]()
“Lazismu harus hadir sebagai lembaga yang mampu mengintegrasikan dana umat, lembaga, dan jaringan. Program yang dijalankan tidak boleh reaktif semata, tetapi harus berbasis kebutuhan masyarakat dan menjawab persoalan jangka panjang,” tegasnya.
Ia menilai, tantangan sosial di Sumatera Selatan semakin kompleks. Karena itu, Lazismu Sumsel perlu memperkuat kolaborasi dengan majelis, lembaga, organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah, serta pemerintah daerah. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar program-program Lazismu tidak berjalan sendiri, tetapi saling menguatkan dan memperluas dampak.
![]()
Lebih lanjut, Erni Juliana Al Hasanah Nasution menekankan bahwa paradigma program Lazismu ke depan harus berorientasi pada dampak (impact oriented). Artinya, setiap program harus dirancang untuk menyentuh akar persoalan masyarakat, bukan hanya gejala permukaannya. Program yang baik, menurutnya, adalah program yang mampu memberikan manfaat lintas generasi dan bertahan dalam jangka panjang.
“Lazismu tidak cukup hanya menyalurkan bantuan. Yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi yang berkelanjutan, yang mampu mengubah kondisi sosial dan ekonomi mereka secara bertahap dan bermartabat,” ujarnya.
![]()
Dalam konteks tersebut, keberlanjutan menjadi isu utama yang harus diperkuat. Erni Juliana Al Hasanah Nasution menyebutkan setidaknya 4 aspek keberlanjutan yang perlu dikembangkan oleh Lazismu Sumsel, yakni keberlanjutan kelembagaan dan keuangan, keberlanjutan sosial, keberlanjutan lingkungan, serta keberlanjutan spiritual.
Untuk keberlanjutan kelembagaan dan keuangan, Lazismu Sumsel didorong melakukan diversifikasi sumber dana. Tidak hanya bergantung pada zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga mengembangkan unit-unit usaha sosial yang dikelola secara profesional dan amanah. Langkah ini dinilai penting agar Lazismu memiliki kemandirian finansial dan daya tahan organisasi dalam jangka panjang.
Sementara itu, keberlanjutan sosial dan lingkungan harus tercermin dalam program-program yang mendorong pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta peningkatan kualitas hidup mustahik. Adapun keberlanjutan spiritual menjadi ruh utama agar seluruh aktivitas Lazismu tetap berada dalam koridor nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.
![]()
Memasuki bulan Ramadhan 1447 Hijriyah, Erni Juliana Al Hasanah Nasution juga mengingatkan Lazismu Sumsel untuk memanfaatkan momentum ini secara maksimal. Bulan Ramadhan disebut sebagai periode strategis, baik dalam pelayanan kepada mustahik maupun dalam penghimpunan dana umat.
“Ramadhan adalah momentum kepercayaan publik. Lazismu harus memberikan pelayanan terbaik kepada mustahik, sekaligus menunjukkan tata kelola yang transparan dan profesional,” katanya.
Ia juga menyinggung pentingnya persiapan audit syariah sebagai bagian dari akuntabilitas lembaga. Selain itu, target penghimpunan dana Ramadhan diharapkan tidak hanya besar secara angka, tetapi juga dirancang dengan strategi yang berdampak dan berkelanjutan.
Editor : Rianza Putra