um-palembang.ac.id – Upaya percepatan penurunan stunting terus didorong melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi lokal. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan Kick Off Hilirisasi Riset-Inovasi Sosial Tahun 2026 di Kampung KB Layang-Layang, Kelurahan 29 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang, pada Senin 21 September 2026.
Kick Off Hilirisasi Riset-Inovasi Sosial Tahun 2026 ini melibatkan akademisi peneliti Universitas Muhammadiyah Palembang yang diketuai oleh Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., denga anggota Dr. drg. Putri Erlyn, M.Kes., Dr. Nico Syah Putra, M.Si., dan Innike Abdillah, S.P., M.Si.
![]()
Kegiatan tersebut mengangkat penelitian berjudul “Model Pemasaran UMKM Pangan Bergizi untuk Percepatan Penurunan Stunting.” Program ini dilaksanakan oleh tim peneliti Universitas Muhammadiyah Palembang melalui dukungan dan kemitraan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumatera Selatan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan, serta dengan Kampung KB Layang-Layang sebagai lokasi implementasi penelitian.
Ketua Peneliti Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., dalam laporannya mengatakan, penelitian tersebut berangkat dari pemikiran bahwa percepatan penurunan stunting membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif.
Menurutnya, persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menyangkut ketersediaan pangan bergizi, kemampuan masyarakat mengolah pangan, penerimaan masyarakat terhadap produk, hingga keberadaan model yang memungkinkan pangan bergizi diproduksi dan dikembangkan secara berkelanjutan.
![]()
“Penelitian ini tidak semata-mata bertujuan menghasilkan produk makanan, tetapi juga mencoba membangun model pemasaran pangan bergizi berbasis masyarakat dan UMKM,” ungkapnya.
Riset ini dirancang secara multidisipliner. Tim peneliti terdiri dari empat orang dengan latar belakang keilmuan yang saling melengkapi, yakni bidang kedokteran atau kesehatan, agribisnis, dan teknologi pangan.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memastikan setiap tahapan penelitian dapat berjalan secara terintegrasi, mulai dari identifikasi kebutuhan pangan bergizi, pengolahan dan pengendalian mutu produk pangan, hingga aspek usaha, pemasaran, serta keberlanjutan produk.
![]()
Sebelum kegiatan pembukaan, tim peneliti Universitas Muhammadiyah Palembang juga telah melakukan koordinasi bersama Korwil KB serta Ketua dan kader Kampung KB Layang-Layang. Koordinasi tersebut membahas persiapan, tahapan kegiatan, serta calon peserta yang akan terlibat.
Tahap awal program akan difokuskan pada pelatihan produksi pangan bergizi. Tim peneliti merencanakan pengembangan lima produk, yakni nugget, bakso, otak-otak, sosis, dan abon tulang ikan.
Lebih lanjut Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., menjelaskan bahwa pelatihan akan dilakukan melalui praktik langsung bersama kader dan kelompok sasaran. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima produk, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk memproduksi pangan bergizi secara mandiri.
![]()
Setelah tahap produksi, kegiatan dilanjutkan dengan uji produk dan pengembangan kemasan. Pengujian mencakup rasa, tekstur, aroma, serta tingkat penerimaan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga akan mendapatkan pembekalan mengenai pengemasan, pelabelan, penyimpanan frozen food, ukuran porsi, serta bentuk kemasan yang sesuai.
Tahap berikutnya adalah implementasi produk di Posyandu Mawar. Produk pangan bergizi akan diberikan secara bertahap kepada sasaran, kemudian dilakukan pemantauan terhadap penerimaan dan pemanfaatan produk.
Tim juga akan melakukan dokumentasi dan evaluasi kegiatan sekaligus pemeriksaan kandungan gizi produk. Pada tahap ini turut dipersiapkan pengurusan legalitas produk, termasuk sertifikasi halal dan PIRT. Menariknya, hilirisasi penelitian ini tidak berhenti pada proses produksi dan pemberian pangan bergizi. Aspek keberlanjutan menjadi salah satu fokus utama.
![]()
Tim peneliti merencanakan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas alternatif pembiayaan dan keberlanjutan produk. Forum tersebut akan mengkaji bagaimana produk dapat terus diproduksi, didistribusikan, dikembangkan menjadi kegiatan UMKM, serta mendapatkan sumber pembiayaan yang mendukung keberlangsungannya.
Jika model awal telah berjalan, implementasi direncanakan diperluas ke posyandu lainnya di Kelurahan 29 Ilir untuk melihat penerimaan produk pada lokasi yang berbeda. Pada tahap akhir, hasil penelitian akan didiseminasikan dan dikaji kemungkinan replikasi program di wilayah lain.
Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., juga menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi penelitian membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Penelitian, menurutnya, membutuhkan lingkungan implementasi yang nyata, masyarakat sebagai penerima manfaat, serta dukungan pihak-pihak yang memahami kondisi wilayah.
![]()
Karena itu, dukungan diharapkan datang dari DPPKB Kota Palembang, Kecamatan Ilir Barat II, Kelurahan 29 Ilir, Korwil KB, PKB, Ketua dan kader Kampung KB Layang-Layang, serta seluruh pihak yang terlibat. Lebih jauh, Kampung KB Layang-Layang diharapkan tidak hanya menjadi lokasi pelaksanaan penelitian, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama dalam membangun model pangan bergizi yang memiliki manfaat ganda.
“Harapan kami, hasil penelitian ini nantinya tidak berhenti pada lima jenis produk pangan, tetapi dapat menghasilkan model yang dapat diterapkan, dikembangkan, dan apabila memungkinkan direplikasi di wilayah lain,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Palembang, Zanariah, S.IP., M.Si., menyambut baik pelaksanaan kegiatan hilirisasi riset tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan manfaat penting bagi peningkatan kapasitas kader Kampung KB.
“Kegiatan ini menambah ilmu dan wawasan bagi kader Kampung KB. Banyak komunikasi dan ilmu baru yang diterima, sehingga diharapkan dapat menjadikan Kampung KB semakin berkualitas dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” tuturnya.
Ia juga mendorong agar forum akademik yang mempertemukan peneliti dengan masyarakat tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. “Fungsikan dengan baik forum akademik ini sampai menghasilkan dampak yang terasa bagi masyarakat sekitar,” tambahnya.
Karena menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan berbasis riset menjadi bagian penting agar berbagai inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Yuniarti, S.E., M.Ec., Ketua Tim Kerja Pengelolaan Kependudukan BKKBN Sumatera Selatan, menjelaskan bahwa program hilirisasi riset-inovasi sosial ini merupakan hasil kerja sama lintas lembaga. “Program ini merupakan kerja sama BKKBN, Kemensaintek Dikti, Universitas Muhammadiyah Palembang, dan LPDP Kemenkeu,” ujarnya
Ia menambahkan, program tersebut diharapkan memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai model pemasaran makanan bergizi sebagai salah satu upaya mendukung percepatan penurunan stunting. “Program ini memberikan gambaran terkait model pemasaran untuk makanan bergizi dalam upaya menurunkan stunting,” pungkasnya.
Editor : Rianza Putra