um-palembang.ac.id – Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang resmi memanen hasil perdana dari Kebun Jagung yang dikembangkan sebagai Pusat Riset dan Hilirisasi Jagung. Panen tersebut dilakukan langsung oleh Rektor UM Palembang Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., pada Sabtu, 31 Januari 2026, di lahan seluas 4,3 hektare yang berlokasi di Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir.
Rektor didampingi jajaran pimpinan universitas, yakni Wakil Rektor I Prof. Dr. Ir. Kgs. Ahmad Roni, S.T., M.T., Wakil Rektor II Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., Wakil Rektor III Dr. Eko Ariyanto, M.Chem.Eng., serta Anggota Badan Pembina Harian (BPH) Drs. Abu Hanifah. Kegiatan ini menjadi penanda keseriusan UM Palembang dalam mengembangkan riset terapan yang langsung terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan sektor riil.
![]()
Lahan jagung yang dikelola bukan sekadar kebun produksi, tetapi dirancang sebagai pusat riset sekaligus hilirisasi. Konsep ini menempatkan kampus tidak hanya berhenti pada penelitian, tetapi juga memastikan hasilnya bisa diolah, dimanfaatkan, dan memberi nilai ekonomi.
Wakil Rektor II UM Palembang, Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., menegaskan bahwa panen perdana ini adalah langkah awal menuju pembentukan pusat unggulan riset jagung di Sumatera Selatan.
![]()
“Ke depan, lokasi ini diproyeksikan menjadi pusat unggulan riset jagung di Provinsi Sumatera Selatan. Tidak hanya fokus pada budidaya, tetapi juga pengembangan teknologi, manajemen produksi, hingga pemanfaatan hasil,” ujarnya.
Pemilihan komoditas jagung bukan tanpa alasan. UM Palembang secara sadar menyelaraskan program risetnya dengan agenda ketahanan pangan yang menjadi prioritas pemerintah pusat. Jagung dinilai sebagai komoditas strategis, baik untuk konsumsi maupun pakan ternak.
![]()
Pasca panen perdana ini, pengembangan akan diarahkan pada budidaya jagung pipil yang diperuntukkan sebagai bahan pakan ternak. Sasaran utamanya adalah mendukung kebutuhan UMKM peternak ayam yang selama ini sangat bergantung pada ketersediaan pakan dengan harga stabil.
Skema ini membuat peran kampus menjadi lebih konkret. Tidak hanya mencetak lulusan, tetapi ikut masuk dalam rantai pasok pangan dan pakan. Model seperti ini sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai pusat solusi, bukan sekadar pusat teori.
![]()
Program hilirisasi jagung ini juga menjadi bagian dari konsep “kampus berdampak” yang terus didorong UM Palembang. Artinya, kegiatan akademik, riset, dan pengabdian tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat sekitar.
Sinergi dengan petani jagung di sekitar lahan universitas menjadi salah satu fokus. Kehadiran pusat riset diharapkan membuka akses pengetahuan, teknologi budidaya, serta pola pengelolaan yang lebih efisien bagi petani lokal. Dengan begitu, manfaatnya tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi meluas ke masyarakat.
![]()
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian UM Palembang, Dr. Helmizuryani, S.Pi., M.Si., turut terlibat dalam pengembangan kawasan ini sebagai laboratorium lapangan bagi mahasiswa dan dosen. Lahan tersebut menjadi tempat praktik langsung, riset varietas, teknik budidaya, hingga pengolahan pasca panen.
Sementara itu, Anggota BPH UM Palembang, Drs. Abu Hanifah, menekankan pentingnya peningkatan pengelolaan kebun secara berkelanjutan. “Pengelolaan lahan kebun jagung ini harus terus ditingkatkan, terutama untuk mendukung riset mahasiswa dan dosen. Ini aset akademik yang sangat strategis,” ulasnya.
![]()
Lahan ini bukan sekadar untuk panen musiman, tetapi harus menjadi pusat pembelajaran dan riset berkelanjutan. Mahasiswa dan dosen harus memanfaatkannya untuk inovasi, sementara hasilnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya peternak dan petani di sekitar kampus.
Drs. Abu Hanifah juga mendorong agar tata kelola kebun terus ditingkatkan, mulai dari perencanaan tanam, penguatan teknologi budidaya, hingga sistem pasca panen. Menurutnya, kebun jagung ini merupakan aset akademik strategis yang harus dijaga produktivitas dan arah pengembangannya.
Editor : Rianza Putra