Wamendikti Saintek Dorong Universitas Muhammadiyah Palembang dan PTMA Jadi Motor Penggerak Kampus Berdampak

um-palembang.ac.id – Universitas Muhammadiyah Palembang kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat. Hal itu mengemuka dalam agenda silaturahmi Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., bersama civitas akademika UM Palembang di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7, Minggu (1/2/2026).

Kegiatan ini turut dihadiri Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., Kepala LLDikti Wilayah II Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc., pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) se-Kota Palembang, jajaran wakil rektor, Badan Pembina Harian, dekan, serta para guru besar Universitas Muhammadiyah Palembang.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi atas kunjungan Wamendikti Saintek dan menyebut momentum ini sebagai penguatan sinergi antara kampus dan pemerintah. Ia menegaskan bahwa Universitas Muhammadiyah Palembang sebagai kampus terakreditasi unggul di Sumatera Selatan terus berkomitmen menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Salah satu wujud konkret komitmen tersebut adalah keberhasilan Universitas Muhammadiyah Palembang melakukan panen perdana kebun jagung yang dikembangkan sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional. Menurutnya, riset dan hilirisasi jagung bukan hanya aktivitas akademik, tetapi dirancang untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat dan mendukung agenda strategis pemerintah.

Kepala LLDikti Wilayah II Prof. Iskhaq Iskandar menambahkan, forum ini menjadi ruang berbagi terkait arah kebijakan pendidikan tinggi. Ia menyebutkan saat ini terdapat 14 PTMA yang berada di bawah koordinasi LLDikti Wilayah II. Dalam konteks tersebut, Universitas Muhammadiyah Palembang memiliki posisi strategis karena tercatat memiliki 13 guru besar, jumlah terbanyak di lingkungan LLDikti Wilayah II.

“Ini menunjukkan kapasitas akademik Universitas Muhammadiyah Palembang sangat kuat. Tinggal bagaimana potensi ini terus diarahkan pada program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Wamendikti Saintek Prof. Fauzan menekankan bahwa program unggulan Universitas Muhammadiyah Palembang di bidang riset dan hilirisasi jagung perlu terus ditingkatkan. Ia menilai sektor ketahanan pangan telah menjadi prioritas nasional dan memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Perguruan tinggi harus peka terhadap apa yang dibutuhkan masyarakat. Berdasarkan berbagai survei, orang tua dan calon mahasiswa hari ini ingin memperbaiki hidup, cepat bekerja, dan tetap bisa berkontribusi kepada masyarakat. Ini pesan kuat bagi kampus,” tegasnya.

Menurutnya, masyarakat kini menaruh harapan besar agar perguruan tinggi menghadirkan tawaran baru dalam pendidikan yang memberikan kompetensi yang jelas dan berdampak. Universitas Muhammadiyah Palembang sebagai perguruan tinggi yang telah terakreditasi unggul dinilai memiliki tanggung jawab lebih untuk menghadirkan kebaruan dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.

Ia juga menyoroti posisi Muhammadiyah yang secara universal memiliki tingkat kepercayaan tinggi di mata masyarakat. Hal ini menjadi modal strategis bagi PTMA, termasuk Universitas Muhammadiyah Palembang, untuk menjadi pelopor inovasi pendidikan yang berorientasi pada kemaslahatan.

Terkait pengembangan kebun jagung Universitas Muhammadiyah Palembang, Wamendikti mendorong kolaborasi lebih luas dengan pemerintah daerah dan sektor industri. Menurutnya, sinergi lintas sektor akan mempercepat hilirisasi hasil riset sekaligus memperkuat ekosistem ketahanan pangan berbasis kampus.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Fauzan juga memperkenalkan program Kementerian Dikti Saintek bertajuk “Kampus Berdampak”. Program ini dirancang sebagai strategi untuk mendorong perguruan tinggi menghasilkan inovasi dan kegiatan yang manfaatnya dirasakan luas oleh masyarakat.

“Program Kampus Berdampak sejalan dengan semangat gerakan Al Maun Muhammadiyah. Karena itu, PTMA harus menjadi penggerak utama. Nilainya langsung menyentuh masyarakat,” jelasnya.

Ia menegaskan, kebaruan harus dimulai dari seluruh elemen kampus, pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Perguruan tinggi, katanya, perlu menyusun spesifikasi kompetensi yang benar-benar dibutuhkan mahasiswa saat ini agar lulusan siap menghadapi dunia kerja sekaligus mampu memberi solusi sosial.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya membangun budaya organisasi yang unggul dan inovatif, dimulai dari ekosistem kampus yang memanusiakan manusia. Lingkungan akademik yang sehat, kolaboratif, dan terbuka terhadap gagasan baru dinilai menjadi fondasi utama lahirnya kampus yang berdampak.

Sebagai langkah strategis, Wamendikti juga mendorong pembentukan konsorsium bersama antar perguruan tinggi Muhammadiyayh Aisyiyah (PTMA) Sumatera Selatan dan pemangku kepentingan untuk mengembangkan potensi serta keunggulan daerah. Dengan pendekatan ini, kampus tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari gerakan kolektif pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.

Editor : Rianza Putra