um-palembang.ac.id – Nilai-nilai perjuangan para tokoh pendahulu Muhammadiyah dinilai harus terus dirawat dan dihidupkan oleh para kader muda di tengah dinamika zaman. Meski zaman telah berubah dan strategi perjuangan terus berkembang, nilai dasar serta integritas kader tidak boleh luntur.
Pesan fundamental tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., saat memberikan materi dalam kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Teknik UM Palembang. Acara pengkaderan tingkat awal ini berlangsung di SMA Muhammadiyah 8 Palembang pada Sabtu (3/10/2026).
![]()
Dalam pemaparannya yang bertajuk Profil Kader dan Nilai Perjuangan Tokoh Muhammadiyah, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., menyoroti tantangan generasi muda Islam masa kini. Menurutnya, cara berjuang mahasiswa masa kini tentu sangat berbeda dibandingkan dengan generasi pendiri atau pimpinan terdahulu. Namun, pergeseran zaman tersebut jangan sampai mengikis substansi pengabdian.
“Bentuk perjuangan boleh saja berubah mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, tetapi nilai-nilai perjuangan dasar Muhammadiyah tidak boleh hilang,” ujarnya di hadapan puluhan peserta DAD IMM Fakultas Teknik Univrsitas Muhammadiyah Palembang.
![]()
Untuk menggembleng mental serta keikhlasan para kader muda, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., menceritakan kembali rekam jejak perjuangan KH Abdul Rozak Fakhruddin atau yang akrab disapa Pak AR Fakhruddin. Pak AR merupakan salah satu figur legendaris yang memimpin Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah selama 22 tahun, yakni pada periode 1968 hingga 1990.
Salah satu monumen sejarah yang sangat menginspirasi dari masa muda Pak AR adalah kisah perjalanan bersepeda yang legendaris. Saat itu, Pak AR memimpin rombongan kepanduan Hizbul Wathan (HW) mengayuh sepeda menempuh jarak sekitar 1.300 kilometer, dari Ulak Paceh, Palembang, menuju Medan, Sumatera Utara.
Perjalanan epik melintasi belantara Sumatera tersebut ditempuh selama 20 hari penuh demi menghadiri Kongres Ke-28 Muhammadiyah. Peristiwa tersebut menjadi bukti nyata betapa kuatnya komitmen, ketahanan fisik, dan keteguhan niat para kader terdahulu dalam membesarkan persyarikatan.
“Mengayuh sepeda sejauh 1.300 kilometer selama 20 hari dari Palembang ke Medan bukanlah hal yang mudah. Itu adalah cerminan ketulusan, pengorbanan, dan ketangguhan kader Hizbul Wathan. Semangat pantang menyerah seperti inilah yang wajib diresapi oleh seluruh mahasiswa dan kader IMM hari ini,” tegas Prof. Abid.
Kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) yang diselenggarakan oleh IMM Fakultas Teknik UM Palembang ini bertujuan untuk membentuk karakter kepemimpinan mahasiswa yang berakhlak mulia, kritis, serta berilmu amaliah. SMA Muhammadiyah 8 Palembang dipilih sebagai tempat pelaksanaan guna menciptakan suasana pengkaderan yang fokus dan kondusif.
Melalui penanaman materi keorganisasian dan ketokohan ini, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., berharap para peserta DAD IMM Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang tidak hanya sekadar mengikuti rutinitas formal pengkaderan, tetapi juga mampu menginternalisasi nilai keikhlasan dan militansi pengabdian.
Ia menekankan bahwa keberlanjutan Muhammadiyah sangat bergantung pada kualitas kader muda yang dihasilkan dari proses pengkaderan seperti DAD. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai perjuangan para tokoh pendahulu, kader IMM diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan zaman modern tanpa kehilangan identitas keislaman dan Kemuhammadiyahannya.
Editor : Rianza Putra