um-palembang.ac.id – Universitas Muhammadiyah Palembang terus memperkuat kualitas akademik melalui penyelenggaraan kegiatan Pemetaan Pemahaman, Kesiapan, dan Tantangan Implementasi Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) serta Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang digelar di Ruang Rapat Pimpinan Lantai 7 Gedung KH Faqih Usman, Senin (29/6/2026).
Kegiatan yang diikuti Wakil Dekan Bidang Akademik, Ketua Program Studi, dan Sekretaris Prodi ini menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi kesiapan seluruh program studi dalam mengimplementasikan kurikulum berbasis capaian pembelajaran dan sistem pembelajaran berbasis teknologi.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Palembang, Dr. Saleh Hidayat, M.Si., menegaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan langkah penting dalam memastikan akuntabilitas capaian pembelajaran lulusan melalui penerapan kurikulum OBE serta adaptabilitas perguruan tinggi terhadap perkembangan teknologi melalui sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).
![]()
Menurutnya, hasil verifikasi yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Kurikulum (LPPK) Universitas Muhammadiyah Palembang terhadap 35 program studi menunjukkan masih adanya disparitas kualitas dokumen kurikulum yang cukup signifikan.
Berdasarkan hasil tersebut, dirinya meminta seluruh ketua program studi untuk segera melakukan rekonstruksi dan penyempurnaan kurikulum secara menyeluruh. Ia menekankan beberapa aspek penting yang harus menjadi perhatian utama.
Pertama, Daftar Peserta dan Nilai Akhir (DPNA) harus bertransformasi dari sistem penilaian konvensional yang hanya berfokus pada persentase tugas, UTS, dan UAS menjadi sistem berbasis Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK). Pendekatan ini dinilai lebih mampu mengukur ketercapaian kompetensi mahasiswa secara nyata dan terukur.
![]()
Kedua, seluruh Rencana Pembelajaran Semester (RPS) wajib mengintegrasikan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) secara komprehensif yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Selain itu, RPS juga harus memuat alokasi waktu yang jelas, memperbarui referensi berdasarkan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dosen, serta menerapkan metode pembelajaran inovatif seperti case method dan team-based project.
Ketiga, visi keilmuan setiap program studi harus dirumuskan kembali agar memiliki kekhasan dan distingsi akademik yang berbasis riset. Menurutnya, visi program studi tidak boleh hanya mengulang visi universitas, melainkan harus menunjukkan karakteristik dan keunggulan bidang ilmu masing-masing.
![]()
Selain itu, seluruh program studi juga diminta melengkapi berbagai instrumen pendukung seperti peta kurikulum, rubrik penilaian, portofolio, Body of Knowledge (BoK), tracer study, serta mekanisme implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sesuai dengan template terbaru yang telah ditetapkan universitas.
Tidak hanya membahas kurikulum OBE, kegiatan ini juga menyoroti implementasi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di lingkungan Universitas Muhammadiyah Palembang. Dr. Saleh Hidayat, M.Si., menegaskan bahwa sebagai perguruan tinggi dengan moda utama pembelajaran tatap muka, pelaksanaan PJJ harus mematuhi seluruh regulasi yang ditetapkan pemerintah agar tidak menimbulkan pelanggaran akademik.
Ia menjelaskan bahwa untuk program studi reguler, proporsi pembelajaran daring maksimal hanya 50 persen dari total beban studi. Seluruh mata kuliah juga wajib terintegrasi dalam Learning Management System (LMS) universitas dengan mengedepankan pembelajaran asinkron yang terstruktur dan diperkuat dengan aktivitas sinkron melalui konferensi video. Selain itu, PJJ harus mampu mendorong kemandirian belajar mahasiswa yang didukung oleh bahan ajar digital yang berkualitas.
![]()
Sebagai bentuk komitmen peningkatan mutu akademik, Universitas Muhammadiyah Palembang menetapkan tenggat waktu maksimal enam bulan bagi seluruh program studi untuk menyelesaikan revisi dokumen kurikulum. Dr. Saleh Hidayat, M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan perbaikan kurikulum bukan sekadar memenuhi kebutuhan administratif, melainkan berkaitan langsung dengan reputasi akademik, akreditasi, dan kualitas lulusan yang dihasilkan universitas.
“Kita harus bergerak cepat dan bersinergi. Hasil verifikasi ini harus menjadi batu loncatan untuk mempercepat peningkatan mutu universitas,” pungkasnya saat membuka kegiatan tersebut secara resmi.
Editor : Rianza Putra